embun yang bagai emas pagi
kali ini lebih bersahaja
berpidato singkat tentang cinta
kehormatan
ketulusan
bertemu hari ini
memulai
untuk meninggalkan.
dan menyibak rahasia langit
yang terlukis didinding temaran malam
saat senyum rembulan
disambut gugusan bintang
dengan lelucon palsu
beriringan kenirwana
bercumbu di balik awan
kecemas bintang akan datangnya pagi
yang akan merenggut fantasi malam
terkesima oleh sebuah janji keabadian
ikhlaskan mahkota titipan surga
kala rebah ditaman angan
fajar menyinsing di ufuk timur
lenyapkan senandung malam yang tadi syahdu
bintang pun masih termangu mencari arah
terhuyung disesal kedunguan
jalan kasih yang tadi berpagar rindu
berganti jalan kenangan berdinding luka
dengan kisah yang kerap meronta
distiap sisi kehidupan
yang setapak tertinggalkan
hanya pekat kabut yang jadi saksi
saat para pecundang cinta
bertutur dan menodai cinta
hilangkan makna embun
lambang kesucian di ujung malam
Diamku
Kala mentari menari di atas dunia
Kala cinta mempesona diatas jiwa
Lantunan namamu terucap dari sebait syair
Laksana kata-kata yang menyihir
Membuat hati tak ingin sesaat tanpamu
Dikala ku jauh darimu
Yang ku ingat
Hanya matamu yang mampu bangkitkan jiwa
Tapi saat ku dekat dirimu
Tiada kata yang terucap
Tiada syair yang bisa ku ungkap
Walau tanyamu inginkan aku menjawab
Adakah kisah kita kan slalu ku ingat
Maaf… jika aku hanya terdiam
Walau aku tahu
Bisu tak kan mampu mengetuk kalbu
Namun ku masih simpan harap
Engkau mengerti rasaku walau isyarat
Pun disetiap dentang waktu
Dihati ini terselubung rindu
Dan…
Kejujuran hati yang aku ingin kau tahu
Diamku… bukan berarti bisuku
Diamku… bukan berarti aku tak bias menjawabnya
Diamku… bukan karena aku tak cinta
Diamku… karena aku takut kehilanganmu
Atas Nama Bunda
Sobat…!
Bukankah nyawa sama kita dapat malam
Diikhwal kegelapan pekat
Saat kapal terombang-ambing gelombang
Dikesunyian yang berkarat
Saat sang fajar datang
Malaikat pun menyulam sari sutra
Dari balik mihrab bercahaya
Sebagai bingkisan untuk bunda
Dari sebuah kehampaan
Bidadari pun tlah ajarkanmu
Untuk menari di atas gelombang
Tapi…. mengapa kau ludahi tanah ketika kau bermimpi terbang ke awan ?
Bagaimana mungkin kau mampu melukis pelangi di dalam kabut ?
Sedangkan istanamu gubuk para budak-budak dunia durjana
Sekarang….
Buanglah keangkuhan anganmu
Lalu pulanglah !
Sulap gubukmu sebagai istana untuk bunda
Ratukan dia agar semesta pun bangga
Melihat ibundamu bagai bidadari Syurga, di kemayaan dunia
Ayolah sobat….!!
Rasakan getar nurani itu
Itu…..
Itu….
Ibumu….
Ibumu….
Ibumu….
Bukan karena aku malu kau tak bisa dibangga
Tapi karena aku malu tak mampu buat kamu bangga
Sedang aku ingin kau dan aku
Pantas bangga atas nama bunda
Langganan:
Postingan (Atom)


